Kamis, 21 Februari 2019

Latihan Multilateral untuk anak usia dini


Perkembangan olahraga modern saat ini diberbagai Negara maju seperti Eropa dan Asia lainya sudah lama melakukan latihan multilateral bagi anak usia dini, latihan multilateral adalah latihan dasar yang menyeluruh dengan pola latihan yang dikemas seperti bermain, latihan anak usia dini tidak ditekankan pada aspek keberhasilan fisik tetapi lebih kepada teknik dasar dalam berbagai cabang olahraga. Dalam cabang olahraga latihan multilateral sangat dibutuhkan karena selama ini banyak para pelatih mengabaikan latihan multilateral. Seoarang anak tidak bisa langsung dilatih dengan fisik sesungguhnya, karena tidak cocok dengan perkembangan dan pertumbuhan usia dini. Perlu ada modifikasi fisik dalam bentuk permainan agar anak usia dini yang baru latihan cabang olahraga lebih tertarik untuk latihan ke level berikutnya.
Melalui program latihan yang dirancang dengan baik, anak akan mampu mengembangkan segenap potensi yang dimiliki dari aspek fisik, sosial, moral, emosi, kepribadian dan lain-lain. Dengan begitu anak diharapkan lebih siap untuk belajar lebih lanjut, bukan hanya latihan secara induvidu di rumah maupun di club. Secara operasional. Praktik latihan usia dini sebaiknya berpusat pada kebutuhan anak, yaitu latihan yang berdasarkan pada minat, kebutuhan, dan kemampuan anak. Oleh karena itu, peran pelatih sangatlah penting. Pelatih harus mampu memfasilitasi aktivitas anak dengan material yang beragam. Program latihannyapun harus disesuaikan dengan karakter perkembangan anak yang masih dalam taraf bermain. Selain itu program latihan harus disusun secara multilateral sehingga anak mempunyai kemampuan yang bermacam-macam walaupun pada akhirnya disalurkan pada salah satu cabang olahraga tertentu.


Konsep dasar dari program latihan bagi anak usia dini adalah multilateral dan permainan. Oleh karena itu berbagai kegiatan olahraga harus diajarkan agar anak memiliki kemampuan fisik secara menyeluruh. Aspek latihan yang perlu dikembangkan pada anak usia dini terutama pada keterampilan (teknik dasar) dan kebugaran jasmani anak. Fase learn to train pada fase belajar latihan anak betul – betul di matangkan gerak dasar yang benar dengan kemampuan fisik dasar yang baik. Atlet Junior, Remaja dan Senior, semua cenderung untuk melakukan sesi pelatihan intensif 2 kali per hari (pagi dan sore) 5 atau bahkan 6 kali per minggu, untuk 8-10 sesi khas per program pelatihan. Ini sering terjadi pada atlet junior dan tidak sedikit atlet junior beranjak ke senior mudah sekali cedera dikarenakan waktu junior latihan terlalu berat dengan pemberian beban, volume, intensitas, dan frekuensi latihan yang tidak tepat pada atlet junior.
Latihan yang berlebihan bagi atlet junior akan menyebabkan resiko cedera yang besar, jika sudah pernah cedera tidak meneutup kemungkinan cederanya akan dating / kambuh dikemudian hari, ini yang menyebabkan atlet tidak bisa latihan / bertanding secara optimal dikarenakan dari sisi psikologi atlet terganggu dengan cederanya. Sebuah prestasi tidak boleh dipaksakan jika belum pada waktunya keinginan yang intstan inilah yang menyebabkan beberapa atlet muda kita sering kali tidak berprestasi di level senior karena sudah habis di level junior. Kita sering mendengar di media cetak, radio maupun televisi sepak bola kita di level junior sangat membanggakan prestasinya juara di terakhir juara AFF U19 tahun 2015 tetapi di level senior sepak bola kita tidak pernah juara hanya sebagai runer up piala AFF. Apa yang salah dari sepak bola kita? Banyak SSB mayoritas di Indonesia tidak mempunyai kurikulum pembinaan yang baik. PSSI selaku induk organisasi tertinggi di Indonesia tidak memiliki kurikulum pembinaan prestasi untuk usia dini, mulai dari pembinaan kepelatihan, kompetisi hingga regenerasi pemain. Greg Wilson, 2014 menyimpulkan dari hasil temuanya Kita membutuhkan sistem yang lebih efektif, berdasarkan metode ilmiah, dan salah satu yang memfokuskan pada menggunakan metode training stage para atlet akan memperoleh manfaat dari program. Jika atlet di paksakan presatsinya belum masuk tada tahap train to win pengembangan atlet berbakat hanya bertahan 5 tahun (yaitu 17 sampai 22 tahun). Padahal goald age atlet di mulai 20 – 30 tahun. Identifikasi bakat dan pengembangan program pelatihan yang tepat pada usia Tahap Persiapan (12 sampai 16 tahun). Berikut adalah tahapan latihan menurut Itvan Balyis, 2001.
Training Stage
Females
Males
FUNDAMENTAL
6 – 8
6 – 9
LEARNING TO TRAIN
8 - 11
9 – 12
TRAINING TO TRAIN
11 - 15
12 – 16
TRAINING TO COMPETION
15 - 22
16 – 23
TRAINING TO WIN
18 - 31
19 – 32
A.  Program latihan multilateral
Pemberian frekuensi, durasi dan beban latihan harus betul – betul di cermati oleh pelatih atau Pembina olahraga untuk anak usia dini. Jangan sampai atlet junior metode latihanya disamakan seperti atlet senior. Latihan yang tidak intensif, bermain, menyenangkan, beban yang tidak terlalu berat serta banyak nilai – nilai positf yang diajarkan terhadap anak. Pada kenyataannya kegiatan tersebut jarang dilakukan utuk anak usia dini Berikut ini adalah contoh bentuk – bentuk latihan multilateral pada anak usia dini oleh Hermawan, Hedi Ardiyanto
ž Kegiatan Pengenalan Organisasi, Aturan-aturan, dan Formasi.
Salah satu permainan yang dapat digunakan untuk mengenalkan organisasi, aturan-aturan dan formasi adalah permainan pulau di tengah lautan.  Sasaran dari permainan ini adalah:  
a.    Mengidentifikasi keselamatan dan belajar dari manfaat mengikuti aturan.
b.    Mengidentifikasi petunjuk dari kelas.
c.    Belajar memulai dan menghentikan sinyal
d.    Bergerak ke informasi formasi dan petunjuk, dan
e.    Bergerak dengan batasan-batasan. Sedangkan peralatan yang digunakan adalah Potongan karpet per anak dan 5-10 kantong kecil.
Pemanasan yang dilakukan sebelum melakukan permainan dengan cara menjelaskan  bahwa  karpet  di ibaratkan pulau, masing-masing anak memiliki pulaunya sendiri dan sangat kecil. Setiap anak harus berusaha untuk tetap kering dengan tetap berada dalam potongan karpet. Setelah anak melakukannya kemudian diberikan aba-aba bergerak dan posisi berdiri, jalan, jongkok, berlutut, berdiri dan memegang  ujung jari, melompat, berbalik dan duduk namun anak harus tetap berada dalam karpet. Apabila anak mampu melakukan dengan baik maka harus diberikan pujian kepada anak tersebut. Inti dari permainan ini adalah:
a.    Menjelaskan tentang informasi formasi. Jika ada perintah informasi formasi, anak menjalankan dan membentuk kelompok (misalnya ber-3, ber-4 atau ber-5). Setelah melakukan beberapa kali maka anak tetap pada formasi kemudian duduk dan dijelaskan maksud dari informasi-informasi yang diberikan apabila dikaitkan dalam olahraga.
b.    Menjelaskan pentingnya aturan dan menanyakan apakan pentingnya aturan itu seperti  apa yang terjadi jika tidak ada aturan, dan apa aturan yang harus dimiliki dalam pendidikan jasmani agar selamat dan,
c.    Menjelaskan dan meminta menulis tentang aturan-aturan dalan pendidikan jasmani seperti   tangan diam, berhati- hati, mendengarkan dan melihat untuk petunjuk berhenti, baik (tidak berkelahi), mendengarkan dan mengerjakan, dan melakukan yang terbaik.
ž  Latihan Kebugaran.
Latihan kebugaran dilakukan sebanyak 2 kali. Masing-masing latihan tersebut adalah:
a.  Latihan Kebugaran 1
1)    Sasaran: a)Latihan kelenturan, b) Latihan kebugaran lari, c)  Menjelaskan pentingnya latihan dan pemanasan sebelum tes, d) Mendemonstrasikan hubungan ketika latihan dan kelenturan.
2)    Pemanasan: a) Berdiri tegak dan menyentuhkan tangan pada kaki dengan kaki tetap lurus, dan b) Tidur telungkup kemudian membungkukkan badan dan kaki berjalan pelan ke tangan.
3)    Kegiatan yang dilakukan: a) Melakukan latihan tes kelenturan dengan duduk kaku diluruskan dan membungkukkan badan semaksimal mungkin dan berhenti sampai terasa sakit, dan b) Latihan lari sejauh 400 m dengan lintasan di buat bujur sangkar. Pelaksanaan lari dilakukan 4 kali. Setiap lari 100 m sampai ujung lintasan. Dilakukan sampai akhirnya berlari sejauh 400 meter.
4)    Penutup: a) Menjelaskan   manfaat   latihan, tes, baik kelenturan maupun lari (cardio respirasi).
b. Permainan dan Olahraga
Dalam kegiatan permainan dan olahraga perencanaan yang dilakukan meliputi latihan keterampilan. Adapun latihan tersebut adalah sebagai berikut:
1)  Pengenalan bagian tubuh anak.
Peralatan yang digunakan adalah kantong kecil yang diisi dengan kapas. Pemanasan yang dilakukan adalah dengan melempar kantong-kantong dengan lemparan zig-zag secara berpasangan, Setelah melakukan pemanasan, anak disuruh memegang kantong dan atas perintah meletakkan kantong tersebut ke bagian-bagian tubuh anak (misalnya kepala,  bahu, tangan, kaki dll) kemudian anak menyebutkan bagian tubuh tersebut. Kegiatan ini dilakukan dengan berjalan ataupun di tempat.
2)  Melempar, Menangkap dan Melambungkan kantong
Melakukan lempar dan tangkap melewati tali. Pada lempar dan tangkap awal dilakukan tanpa menggunakan aturan. Setelah beberapa kali dilakukan kemudian digunakan aturan untuk melempar dengan tangan kanan (kecuali kidal) dan menangkap dengan tangan kiri. Selain menggunakan tali, lempar tangkap dapt pula dilakukan dengan menggunakan sinpai atau dengan pengungkit yang di injak sendiri agar kantong bisa melayang kemudian ditangkap. Setelah anak melakukan lempar tangkap dengan menggunakan kantong, kemudian dilanjutkan dengan menggenakan bola busa, bola tenis dan akhirnya bola tenis. Dengan demikian tingkat kesulitan akan selalu bertambah dan kesiapan untuk mempelajari permainan softball akan semakin tinggi.
3)  Keterampilan lokomotor dengan rintangan.
Pada aktivitas ini anak melakukan kegiatan berjalan, berlari, dan melompat selama 20 menit dengan intensitas sedang 160 – 170/menit rintangan yang sudah ditentukan seperti pada gambar latihan 1, 2 dan 3.

        Model Latihan Rintangan 1. 
Lakukan dengan intensitas sedang 16 – 170/menit 
dengan 7x pengulangan recovery 2 menit.
Model Latihan Rintangan 2.
o   Melakukan dengan model interval
o   1 : 2 artinya melakukan 1x istirahat 2x
o   1 menit x 5 setiap interval recoveri 2 Menit
o   HR 160 – 170/menit (Sedang)
Model Latihan Rintangan 3. Melakukan gerakan lokomotor dengan merubah arah.
·         Menggunakan circuit training
·         Setiap pos 30 detik
·         Lakukan 5x putaran dengan intensitas sedang 160 – 170 /meit
·         Recovery 2 menit setiap intervalnya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Puslatcab sepak takraw surabaya didirika oleh KONI surabaya sejak tahun 2004,peserta Pusalatcab sepak takraw surabya adalah kumpulan atlet takraw surabaya dari siswa sekolah: SD, SMP, SMA, dan kuliah. jika ada yang berminat silahkan hubungi 085648189580 Coach Hanafi terimakasih