Perkembangan olahraga modern saat ini diberbagai
Negara maju seperti Eropa dan Asia lainya sudah lama melakukan latihan
multilateral bagi anak usia dini, latihan multilateral adalah latihan dasar
yang menyeluruh dengan pola latihan yang dikemas seperti bermain, latihan anak
usia dini tidak ditekankan pada aspek keberhasilan fisik tetapi lebih kepada
teknik dasar dalam berbagai cabang olahraga. Dalam cabang olahraga latihan
multilateral sangat dibutuhkan karena selama ini banyak para pelatih
mengabaikan latihan multilateral. Seoarang anak tidak bisa langsung dilatih
dengan fisik sesungguhnya, karena tidak cocok dengan perkembangan dan
pertumbuhan usia dini. Perlu ada modifikasi fisik dalam bentuk permainan agar
anak usia dini yang baru latihan cabang olahraga lebih tertarik untuk latihan
ke level berikutnya.
Melalui program latihan yang
dirancang dengan baik, anak akan mampu mengembangkan segenap potensi yang
dimiliki dari aspek fisik, sosial, moral, emosi, kepribadian dan lain-lain.
Dengan begitu anak diharapkan lebih siap untuk belajar lebih lanjut, bukan
hanya latihan secara induvidu di rumah maupun di club. Secara operasional. Praktik
latihan usia dini sebaiknya berpusat pada kebutuhan anak, yaitu latihan yang
berdasarkan pada minat, kebutuhan, dan kemampuan anak. Oleh karena itu, peran
pelatih sangatlah penting. Pelatih harus mampu memfasilitasi aktivitas anak
dengan material yang beragam. Program latihannyapun harus disesuaikan dengan
karakter perkembangan anak yang masih dalam taraf bermain. Selain itu program
latihan harus disusun secara multilateral sehingga anak mempunyai kemampuan
yang bermacam-macam walaupun pada akhirnya disalurkan pada salah satu cabang
olahraga tertentu.
Konsep dasar dari program
latihan bagi anak usia dini adalah multilateral dan permainan. Oleh karena itu
berbagai kegiatan olahraga harus diajarkan agar anak memiliki kemampuan fisik
secara menyeluruh. Aspek latihan yang perlu dikembangkan pada anak usia dini
terutama pada keterampilan (teknik dasar) dan kebugaran jasmani anak. Fase learn to train pada fase belajar latihan
anak betul – betul di matangkan gerak dasar yang benar dengan kemampuan fisik
dasar yang baik. Atlet Junior,
Remaja
dan Senior, semua
cenderung untuk melakukan sesi pelatihan intensif 2 kali per hari (pagi dan
sore) 5 atau bahkan 6 kali per minggu, untuk 8-10 sesi khas per program
pelatihan. Ini sering terjadi pada atlet junior dan tidak sedikit atlet junior
beranjak ke senior mudah sekali cedera dikarenakan waktu junior latihan terlalu
berat dengan pemberian beban, volume, intensitas, dan frekuensi latihan yang
tidak tepat pada atlet junior.
Latihan yang berlebihan
bagi atlet
junior akan menyebabkan resiko cedera yang besar, jika sudah pernah cedera
tidak meneutup kemungkinan cederanya akan dating / kambuh dikemudian hari, ini
yang menyebabkan atlet tidak bisa latihan / bertanding secara optimal
dikarenakan dari sisi psikologi atlet terganggu dengan cederanya. Sebuah
prestasi tidak boleh dipaksakan jika belum pada waktunya keinginan yang intstan
inilah yang menyebabkan beberapa atlet muda kita sering kali tidak berprestasi
di level senior karena sudah habis di level junior. Kita sering mendengar di
media cetak, radio maupun televisi sepak bola kita di level junior sangat
membanggakan prestasinya juara di terakhir juara AFF U19 tahun 2015 tetapi di
level senior sepak bola kita tidak pernah juara hanya sebagai runer up piala
AFF. Apa yang salah dari sepak bola kita? Banyak SSB mayoritas di Indonesia
tidak mempunyai kurikulum pembinaan yang baik. PSSI selaku induk organisasi
tertinggi di Indonesia tidak memiliki kurikulum pembinaan prestasi untuk usia
dini, mulai dari pembinaan kepelatihan, kompetisi hingga regenerasi pemain.
Greg Wilson, 2014 menyimpulkan dari hasil temuanya Kita membutuhkan sistem yang
lebih efektif, berdasarkan metode ilmiah, dan salah satu yang memfokuskan pada
menggunakan metode training stage para
atlet akan memperoleh manfaat dari program. Jika atlet di paksakan presatsinya
belum masuk tada tahap train to win
pengembangan atlet berbakat hanya bertahan 5 tahun (yaitu 17 sampai 22 tahun).
Padahal goald age atlet di mulai 20 –
30 tahun. Identifikasi bakat dan
pengembangan program pelatihan yang
tepat pada usia Tahap
Persiapan (12 sampai 16 tahun). Berikut adalah tahapan latihan menurut Itvan
Balyis, 2001.
Training Stage
|
Females
|
Males
|
FUNDAMENTAL
|
6 – 8
|
6 – 9
|
LEARNING TO TRAIN
|
8 - 11
|
9 – 12
|
TRAINING TO TRAIN
|
11 - 15
|
12 – 16
|
TRAINING TO COMPETION
|
15 - 22
|
16 – 23
|
TRAINING TO WIN
|
18 - 31
|
19 – 32
|
A. Program
latihan multilateral
Pemberian frekuensi, durasi
dan beban latihan harus betul – betul di cermati oleh pelatih atau Pembina
olahraga untuk anak usia dini. Jangan sampai atlet junior metode latihanya
disamakan seperti atlet senior. Latihan yang tidak intensif, bermain,
menyenangkan, beban yang tidak terlalu berat serta banyak nilai – nilai positf
yang diajarkan terhadap anak. Pada kenyataannya kegiatan tersebut jarang
dilakukan utuk anak usia dini Berikut ini adalah contoh bentuk – bentuk latihan
multilateral pada anak usia dini oleh Hermawan, Hedi Ardiyanto
Kegiatan Pengenalan Organisasi, Aturan-aturan, dan Formasi.
Salah satu permainan yang dapat digunakan untuk mengenalkan organisasi,
aturan-aturan dan formasi adalah permainan pulau di tengah
lautan. Sasaran
dari permainan ini adalah:
a. Mengidentifikasi
keselamatan dan belajar
dari
manfaat mengikuti aturan.
b. Mengidentifikasi petunjuk dari kelas.
c. Belajar memulai dan
menghentikan sinyal
d. Bergerak ke informasi formasi dan petunjuk, dan
e. Bergerak dengan batasan-batasan. Sedangkan
peralatan yang digunakan adalah Potongan karpet per
anak dan 5-10 kantong kecil.
Pemanasan yang dilakukan sebelum melakukan permainan dengan cara menjelaskan bahwa
karpet di ibaratkan pulau, masing-masing anak memiliki pulaunya sendiri dan sangat kecil. Setiap anak harus berusaha untuk tetap kering dengan tetap berada dalam potongan karpet. Setelah anak melakukannya kemudian diberikan aba-aba bergerak
dan posisi berdiri, jalan, jongkok, berlutut, berdiri dan memegang
ujung jari,
melompat, berbalik dan duduk namun anak harus tetap berada dalam karpet.
Apabila anak mampu melakukan dengan baik maka harus diberikan pujian kepada anak tersebut. Inti dari permainan ini adalah:
a. Menjelaskan tentang informasi formasi. Jika
ada perintah informasi formasi, anak menjalankan dan membentuk kelompok (misalnya ber-3, ber-4 atau ber-5). Setelah melakukan beberapa kali maka anak tetap
pada formasi
kemudian
duduk dan dijelaskan maksud dari informasi-informasi yang diberikan apabila
dikaitkan dalam olahraga.
b. Menjelaskan pentingnya aturan dan menanyakan apakan
pentingnya aturan itu seperti
apa yang terjadi jika tidak ada aturan, dan apa aturan
yang harus dimiliki dalam pendidikan
jasmani agar selamat dan,
c. Menjelaskan dan meminta
menulis tentang aturan-aturan dalan pendidikan jasmani seperti tangan diam, berhati-
hati, mendengarkan dan melihat untuk petunjuk berhenti, baik (tidak berkelahi), mendengarkan dan mengerjakan, dan melakukan yang terbaik.
Latihan Kebugaran.
Latihan kebugaran dilakukan sebanyak 2 kali. Masing-masing latihan tersebut adalah:
a. Latihan Kebugaran 1
1) Sasaran: a)Latihan kelenturan, b) Latihan kebugaran lari, c) Menjelaskan
pentingnya latihan dan pemanasan sebelum tes, d) Mendemonstrasikan
hubungan ketika latihan dan kelenturan.
2) Pemanasan: a)
Berdiri tegak dan menyentuhkan tangan pada kaki dengan kaki
tetap lurus, dan b) Tidur
telungkup kemudian membungkukkan badan dan kaki
berjalan pelan ke tangan.
3) Kegiatan yang dilakukan: a) Melakukan latihan tes kelenturan
dengan duduk kaku diluruskan dan membungkukkan
badan semaksimal mungkin dan berhenti sampai terasa sakit, dan b) Latihan lari sejauh 400 m dengan lintasan di buat bujur sangkar. Pelaksanaan lari dilakukan 4 kali. Setiap lari 100 m sampai ujung lintasan. Dilakukan sampai
akhirnya berlari sejauh 400 meter.
4) Penutup: a) Menjelaskan
manfaat latihan, tes, baik kelenturan maupun lari (cardio respirasi).
b. Permainan dan Olahraga
Dalam kegiatan permainan dan olahraga perencanaan yang dilakukan meliputi latihan keterampilan. Adapun latihan tersebut adalah sebagai berikut:
1)
Pengenalan bagian tubuh anak.
Peralatan yang digunakan adalah kantong kecil yang diisi dengan kapas.
Pemanasan yang dilakukan adalah dengan melempar kantong-kantong dengan
lemparan zig-zag secara berpasangan, Setelah melakukan pemanasan, anak disuruh memegang kantong dan atas perintah meletakkan kantong tersebut ke bagian-bagian tubuh anak (misalnya
kepala,
bahu, tangan, kaki dll) kemudian anak menyebutkan bagian tubuh tersebut. Kegiatan ini
dilakukan dengan berjalan ataupun di tempat.
2) Melempar, Menangkap dan Melambungkan kantong
Melakukan lempar dan tangkap melewati tali. Pada lempar dan tangkap awal dilakukan tanpa menggunakan aturan. Setelah beberapa kali dilakukan kemudian digunakan
aturan untuk melempar dengan tangan kanan (kecuali kidal) dan
menangkap dengan tangan kiri. Selain menggunakan
tali, lempar tangkap dapt pula dilakukan dengan
menggunakan sinpai atau dengan pengungkit yang di injak
sendiri agar kantong bisa melayang kemudian ditangkap. Setelah anak melakukan
lempar tangkap dengan menggunakan kantong, kemudian
dilanjutkan dengan menggenakan bola busa, bola tenis dan akhirnya bola tenis.
Dengan demikian tingkat kesulitan akan selalu bertambah dan kesiapan untuk
mempelajari permainan softball akan semakin tinggi.
3) Keterampilan lokomotor
dengan rintangan.
Pada aktivitas ini anak melakukan kegiatan berjalan, berlari, dan melompat selama 20 menit dengan intensitas sedang 160 – 170/menit rintangan yang sudah ditentukan seperti pada gambar
latihan 1, 2 dan 3.
Lakukan dengan intensitas
sedang 16 – 170/menit
dengan 7x pengulangan recovery 2 menit.
Model Latihan
Rintangan 2.
o
Melakukan dengan model interval
o
1 : 2 artinya melakukan 1x istirahat 2x
o
1
menit x 5 setiap interval recoveri 2 Menit
o
HR
160 – 170/menit (Sedang)
Model
Latihan Rintangan 3. Melakukan gerakan lokomotor dengan merubah arah.
·
Menggunakan
circuit training
·
Setiap
pos 30 detik
·
Lakukan
5x putaran dengan intensitas sedang 160 – 170 /meit
·
Recovery 2 menit setiap intervalnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Puslatcab sepak takraw surabaya didirika oleh KONI surabaya sejak tahun 2004,peserta Pusalatcab sepak takraw surabya adalah kumpulan atlet takraw surabaya dari siswa sekolah: SD, SMP, SMA, dan kuliah. jika ada yang berminat silahkan hubungi 085648189580 Coach Hanafi terimakasih